ter menjadi tak asing ketika berada di Jakarta, esensi ter- menjadikan sesuatu itu paling,menjadi atau karena ketidaksengajaan. Atau beberapa kesan yang baik dijadikan paling dan yang buruk dijadikan ketidaksengajaan. Sebagai contoh, terseksi bisa disebut paling seksi, terkaget bisa disebut menjadi kaget, tertabrak bisa disebut tidak sengaja ditabrak, ternyata ter mempunyai tiga arti. Atau mungkin ter “menjadi paling tidak sengaja”.
Beberapa hakikat ter – berada di Jakarta semoga sesuai dengan arti sebenarnya bukan arti yang ter-bolak-balik, atau ter-gabung-gabung. Ketika berada di Jakarta, ter-kagum melihat gedung-gedung, ter-cengang melihat kesibukan kota ini, ter-pukau dengan dunia malamnya, ter-lengkap dengan berbagai fasilitasnya, ter-pintar dengan keberadaan orang-orang pintar, tertegun melihat arsitektur di jaman soekarno, ter-padat dengan keberadaan penduduk dadakan, tercepat arus informasinya, kaum-kaum kecil yang ter-singkirkan,jumlah sampah terbanyak, aliran sungai terkotor, bahkan yang paling ter-rasa tiap orang di Jakarta, Jakarta kota termacet. Sudah lebih 50 tahun Jakarta menjadi ibukota Indonesia, kemacetan Jakarta semakin meningkat. Beberapa ahli mengatakan lalu lintas Jakarta akan berhenti total tahun 2030.Dan masyarakat Indonesia ter-tuju padanya.
Banyak sebab yang menjadikan Jakarta macet, sarana dan prasana yang kurang memadai dari kapasitas kendaraan yang ada, peraturan yang tak sesuai dengan lapangan, penjualan kendaraan yang tak dibatasi, krisis kesadaran individu terlalu tinggi.
Berbagai upaya sedang dijalankan saat ini untuk mengurangi kemacetan total ditahun 2030, agar satu jabatan termacet bisa dihilangkan.
Tulisan ini terinspirasi ketika saya melihat beberapa karya BIG, dan semoga Jakarta juga bisa terinspirasi dari beberapa karya BIG ini. Ketika jalan raya dan building dikawinkan ternyata serasi juga, jenius……
Peraturan tentang garis sepadan bangunan yang disebut sebagai GSB yang selama ini dipakai…… hanya berpihak bagi area resapan dan jarak keleluasaan memandang antar bangunan... tapi tak adil bagi si macet….. dan jika GSB dihitung setengah dari lebar jalan raya, rancangan BIG ini menghasilkan GSB 0 meter.
Dan yang pasti untuk Jakarta bangunan rancangan ini susah untuk terealisasikan karena kesadaran kita (pemerintah dan masyarakatnya) untuk menerima sesuatu yang baru masih agak sulit, dan pada akhirnya hanya bisa menghela nafas sambil mengelus dada dan berkata ter-rima sajalah. Dan berharap agar segera tersadar untuk menjadikan Jakarta ter-hijau, ter-indah, ter-bersih, ter-santun,ter-didik,ter-peduli dan ter-wujud…… (iseng- gara-gara udara di jalan Jakarta susah untuk dihirup)
untuk sementara ini penulis hanya sedikit mengulas dari beberapa karyanya.
Jatim Park 2, Pohon inn dan Batu Screet Zoo*
*Ket : (penjelasan sedang di proses oleh editor)
Poligigi dan Taman Baca Gratis Amin
Sebelum penulis menuju ke kawasan Jatim Park, Pohon inn serta Batu Screet Zoo, ada sebuah bangunan yang tak seperti biasa selama ini kita kenal.Sebelum mengulas tentang bangunan ini prof Josef prijotomo pernah mengulas the contertainer ini bisa di lihat kembali di : klik archiguna
sejauh yang penulis rasakan ketika melihat bangunan ini, adanya inovasi dalam dunia arsitektur dalam pemanfaatan container yang dulunya tak terpakai di sulap menjadi barang mewah karena adanyakemampuan arsitek untuk mengolah secara optimal. Kekaguman penulis tak berhenti di situ, tak sekedar bentuk, warna, material, suasana, rasa yang diberikan oleh bangunan ini lewat raganya tapi juga seakan bangunan ini mempunyaijiwa.Jiwa untuk masyarakat, Menyisihkan sebagian ruangnya untuk masyarakat berupa taman baca. Untuk membudayakan kebiasaan membaca, meningkatkan minat masyarakat, meningkatkat sumber daya masyarakat, Disinilah peran arsitek berperan penuh untuk masyarakat. Seandainya sebagian besar arsitek berpikir seperti ini, mau memberikan sebagian ruang dalam tiap karya desainya dijadikan ruang social. Mungkin bisa jadi dalam satu kelurahan terdapat lebih dari satu, bayangkan berapa banyak taman baca akan ada di Indonesia ini. jika semua kalangan masyarakat bisa dengan mudahnya menemukan tiap sisi sudutnya ada taman baca,Akan bisa memberikan effek yang besar untuk bangsa ini lima, sepuluh, duapuluh tahun kedepan. Kita bisa bercermin dari Jepang ketika pertama kali memilih faktor pendidikan yang paling penting diprioritaskan setelah bom Nagasaki dan Hiroshima.
The contertainer ini, dengan bentuk yang sculptural seakan dijadikan sebagai penanda bahwa disitu terdapat taman baca. Warna yang kontras melembutkan material container yang keras itu sendiri serta container yang diarahka ke seluruh penjuru, seakan mengundang masyarakat sekitar untuk mengunjungi taman baca ini.
Disamping sebagai taman baca, contertainer ini juga berfungsi sebagai poligigi sebagai tempat profesi owner. ruang container dijadikan sebagai taman baca dan ruang dibawahnya sebagai poligigi.
BNS terletak tak jauh dari kawasan Jatim Park 2 di kawasan dataran tinggi daerah batu. BNS mempunyai view ke lembah yang lebih rendah, lampu lampu perkotaan akan tampak dari kawasan ini. indahnya malam di jadikan momen yang pas untuk dijadikan Lighting mendominasi kawasan ini.
Pengalaman yang tak terlupakan ketika penulis berada pada area food court, tiap malam disuguhkan event dari Layar terpanjang yang letaknya tepat di bagian langit langit bangunan, pemutaran video bukan berupa film atau music melainkan video tentang ke indonesiaan, ada suara bung karno membaca naskah proklamasi, dilanjutkan iringan lagu kebangsaan berlirik Indonesia merah darahku putih tulangku bersatu dalam jemariku….. warga Jawa Timur diajak mereview keciantaanya terhadap Indonesia. Lagi-lagi si Arsitek menunjukan kecintaanya pada nusantara ini.
Untuk bagian dalam sengaja tidak ditampilkan, agar pembaca blog archiguna bisa merasakan langsung karya d_pavilion.